KECELAKAAN SAAT BERKENDARA

 Kejadian itu terjadi saat saya masih duduk di kelas X SMA. Saat itu, saya biasanya pulang sekolah jam 16.00 WIB. Tetapi, pada jam 12.10-jam 12.50 WIB adalah waktu yang digunakan untuk istirahat pulang ke rumah dan pergi kembali ke sekolah. Ketika saya ingin pulang ke rumah untuk makan siang dan salat zuhur, teman saya meminta tolong dengan saya. Dia tidak memiliki kendaraan untuk pulang ke kosannya, jadi dia minta tolong diantarkan atau istilahnya nebeng . Karena ada kertas tugas yang harus dikumpul saat sekolah sore nanti, dan dia lupa membawanya. Saya mau membantunya tapi harus cepat karena waktu istirahat tidak lama pada hari itu. Kami berdua pun menuju ke kosan yang lumayan jauh dari sekolah.

Sesampainya disana, kami langsung masuk ke kamarnya, dan dia sibuk mencari kertas tugas itu. Sampai beberapa menit dia tidak menemukannya, ternyata kertas itu hilang. Saya membantu dia mencari kertas itu, tapi tidak ditemukan juga dan akhirnya kami menyerah. Waktu istirahat tinggal sedikit, saya memutuskan untuk pulang kerumah , karena saya sendiri belum makan, salat, dan sebagainya. Saat perjalanan pulang, saya mengendarai sepeda motor dengan laju. Lalu, saat hampir tiba di bundaran saya masih mengendarai motor dengan lajunya sedangkan di bundaran itu banyak kendaraan yang lalu-lalang. Dari bundaran itu, saya lurus dan tenyata ada motor dari arah yang berlawanan juga lurus dengan laju. Sehingga, terjadilah tabrakan dengan cepatnya yang tidak saya bayangkan.
Posisi saya terhimpit motor dan saya berusaha untuk mengangkat motor itu untuk menjauhkan dari badan saya. Teman saya terjatuh dan terseret agak jauh dari motor sambil menangis kesakitan memegang pinggangnya, sedangkan orang yang menabrak kami mengalami luka-luka ringan.  Beberapa orang mulai berdatangan untuk melihat kecelakaan ini, dan ada seorang polisi yang lewat kemudian berhenti melihat kejadian ini. Orang yang menabrak kami ternyata juga anak SMA  tapi tidak satu sekolah dengan kami. Polisi yang lewat yang tadi menanyakan bagaimana peristiwa kecelakaan ini terjadi. Ketika Saya menjelaskannya, anak SMA yang menabrak itu tidak membenarkan dan dia menuduh saya yang salah. Saya tidak terima karena walau saya mengendarainya dengan laju, seharusnya yang menabrak itu tidak laju juga. Karena waktu itu, saya yang lebih dulu melewati jalan dibandingkan dia. Kami sama-sama tidak ada yang mau mengaku salah, lalu polisi itu menegaskan kepada kami agar kami sebaiknya berdamai saja, karena urusannya akan lebih rumit bila dilaporkan ke kantor polisi. Kami pun sepakat berdamai dan polisi itu pergi melanjutkan aktivitasnya begitu juga orang-orang yang berdatangan tadi. Namun, setelah orang-orang tersebut pergi anak SMA yang menabrak kami seperti masih ingin melanjutkan perselisihan. Dia memarahi saya dan meminta ganti rugi karena lampu motornya yang pecah. Saya melawannya dan merasa aneh ketika dia meminta rugi atas kerusakan motornya itu. Karena bukan dia saja yang mengalami kerugian, saya pun demikian, motor saya waktu itu tidak bisa dihidupkan. Teman saya pun tidak terima, dia marah-marah sambil nangis kepada orang itu karena dia mengalami luka yang agak parah di bagian pinggangnya. Setelah orang itu melihat luka teman saya yang sangat memar, mereka menghentikan pertengkaran dan pergi.
Setelah orang-orang itu pergi, saya mencoba menghidupkan motor. Tapi tidak bisa hidup juga. Sambil menangis saya menghidupkannya. Setelah beberapa menit, akhirnya motor saya bisa dihidupkan. Saya mengajak teman saya pulang, dengan hati-hati saya membawa motor. Ada perasaan sedih, takut, khawatir, dan juga lucu dalam peristiwa ini. Lucunya selama di perjalanan, kami berdua menangis tersedu-sedu bersama sambil mengingat dan menceritakan kembali apa yang kami berdua rasakan tidak peduli dengan orang-orang yang melihat kami, apalagi teman saya. Kami merasa seperti anak-anak yang cengeng. 
Sesampainya dirumah, saya menyuruh teman saya masuk dan saya memberitahukan kepada ibu saya tentang kejadian ini. Ibu saya pun kaget dan cemas melihat keadaan kami. Tapi untunglah, saya hanya mengalami memar di bagian paha dan motor saya tidak ada yang lecet sedikitpun padahal tabrakan itu cukup kuat. Namun, keadaan teman saya yang parah, pinggangnya sangat memar dan dia merasa kesakitan saat duduk ataupun berbaring. Lalu ada tetangga saya yang mendatangi kami. Dia memberi saran agar luka teman saya itu dikompres dengan batu es, ibu saya juga memberikan obat untuk peringan sakitnya. Gara-gara kejadian ini, kami jadi tidak masuk sekolah sore. Saya memberitahu teman-teman saya untuk menyampaikan kepada guru bahwa kami mengalami kecelakaan dan tidak bisa masuk sekolah. Teman-teman dan guru sangat kaget dan merasa kasihan terhadap kami. Sorenya, teman-teman sekelas menjenguk kami dan mendengarkan cerita kami saat kecelakaan itu. Saat masuk sekolah, ibu guru menasihati kami agar berhati-hati. Inilah sedikit pengalaman saya saat mengalami kecelakaan motor bersama teman sekelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkembangan Sejarah Koperasi Di Indonesia