CORONA
Hari demi hari berlalu dengan batasan yang tak ada satu orang pun yang bisa menjawab kapan ini akan berakhir. Semua orang hidup dalam tanda tanya besar. Sudah berapa lama kita dirumah saja? Sangat lama dan masih berlanjut entah sampai kapan. Bosan sudah nyata adanya, tapi kini sudah menjelma menjadi teman karib. Sepi bagaikan kawan lama yang menyapa. Tanpa sadar, kita sudah berjalan cukup jauh dalam batasan ini, sampai bermunculan kebiasaan baru yang awalnya terasa asing namun hari ini sudah menjadi suatu kebiasaan.
Pagi ini, aku mendengar keluhan frustrasi seorang ayah dengan ayah lainnya di sudut jalan komplek rumahku. Topik utamanya; kekhawatiran tentang kehidupan finansial keluarga. Diberhentikan dari pekerjaannya menjadi tantangan besar untuk bisa menghidupi keluarga. Bukan perkara mudah untuk bertahan hidup di tengah kota ini.
“Sudah ndak kerja, kebutuhan makin banyak, pusing aku! Mau makan apa keluargaku nanti, “kata salah satunya dengan nada frustrasi.
Masalahnya bukan hanya itu, ada banyak masalah lainnya yang terjadi karena pandemi ini. Ada banyak rencana yang terpaksa diurungkan. Kekecewaan bergema dimana-mana, semuanya mengutuk keberadaan virus yang dinamai serupa dengan bagian paling luar dari atmosfer matahari itu. Suatu hari sepupuku bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang pemain kriket. Tahun ini adalah tahunnya mewakili Provinsi Bali dalam pertandingan nasional di Bogor. Aku yakin, kau pun bisa menebak apa akhir dari cerita itu. Iya, semuanya dibatalkan. Ajang besar seperti kejuaraan tenis dunia yang seharusnya digelar di Korea Selatan saja harus rela dibatalkan apalagi ajang nasional. Latihannya berbulan-bulan pupus tanpa sedikitpun harapan
“Jangan dibatalin kek, kan kecewa tau! Kita sudah latihan dan sudah siap. Setidaknya bisa dimundurin jadwalnya, kita bakal terima kok. Tapi surat itu tiba-tiba bilang dibatalkan. Siapa yang ngga sedih coba,” ucap emosi bercampur sendu sepupuku yang malang sambil menyodorkan handphonenya yang berisi surat digital dari pusat pemerintahan provinsi. Tulisan ‘dibatalkan’ sengaja dicetak tebal, seakan-akan sengaja ingin menelanjangi kekecewaan yang dirasakan pembacanya.
Kekecewaan yang sama dirasakan oleh semua lulusan tahun 2020. Genap tiga tahun bersekolah namun tak ada perpisahan dan tiba-tiba saja harus melangkah menuju jalan masing-masing tanpa berpamitan, tanpa berjabat tangan merayakan kelulusan, tanpa membuat kenangan terakhir, tanpa berucap ‘semoga sukses’ secara langsung, tanpa bilang ‘terimakasih’ pada guru-guru yang membimbing. Kondisi ini benar-benar mengecewakan.
Disamping itu virtual, telekonferens, dan video call tiba-tiba menjadi pahlawan. Semua kegiatan, pekerjaan, bersekolah, semuanya serba online. Awalnya terasa aneh, tapi lagi-lagi kita akan terbiasa. Benar, walaupun kondisi ini menghimpit kita dalam beraktifitas, bukan berarti kita hanya bisa diam dirumah dan meratapi detik demi detik yang berlalu tanpa arti jika kita benar-benar hanya diam.
Hal itu terlihat jelas pada pemandangan baru yang terjadi di sekitar lingkunganku. Entah dari mana asalnya, sepasang suami istri berkeliling komplek setiap pagi untuk menawarkan ikan. Si suami mengendarai motor dengan mesin yang bersuara “treketek-ketek” dan si istri berteriak dengan lantang, “Ikaaaaaaan….Ikaaaaaaaa…” Bahkan suaranya mengalahkan deru motornya sendiri. Dalam hati berharap suaranya mampu menembus tembok demi tembok penghuni komplek agar membeli ikan jajalannya. Dibalik suaranya yang lantang itu, ada kegigihan yang menyeruak untuk bisa menghidupi keluarga.
Hampir dua bulan batasan ini terjadi, aku bahkan bertanya-tanya apakah aku masih ingat cara mengendarai milea (nama motorku) atau akan belajar dari awal lagi? Semoga saja tidak. Batasan ini benar-benar mengisolasi semua kegiatan. Aku yakin, semua orang punya target dalam hidupnya. Kita semua punya goals. Namun kondisi ini pula membuat kita hanya bisa diam ditempat sedangkan semua rencana yang sudah terancang menuntut kita bergerak keluar. Dan pada akhirnya, kita mengalah pada kondisi ini dan membiarkan rencana-rencana itu berserakan. Berusaha memahami kondisi ini memang sulit adanya. Namun lagi-lagi kita akan terbiasa.
Kebiasaan lainnya, aku lebih sering berdiskusi dengan ayah dan ibuku. Mereka kini lebih sering dirumah. Aku lebih sering bermain dengan adik-adikku, lebih sering menonton film, lebih sering tidur siang, lebih sering memasak dirumah ketimbang membeli diluar, lebih sering bereksperimen di dapur dari membuat dalgona sampai membuat bakso sendiri. Dan sekarang batasan ini membuatku terbiasa.
Memasuki pertengan bulan mei, angin bertiup kencang. Pemandangan baru lainnya terasa mengelitik perut. Demi menyenangkan putra-putrinya, para ayah di sekitaran komplek menerbangkan layang-layang, begitu juga ayahku. Setiap sore, langit menjadi tempat persinggahan kerangka bambu yang dibungkus plastik. Melayang-layang di udara dengan pesonanya dari berbagai bentuk, walaupun rata-rata bentuknya burung hantu. Antusias anak-anak kecil melihat ayahnya menerbangkan layang-layang membuatku tak bisa memungkiri jika bukan karena batasan ini mungkin pemandangan langit seramai itu tidak akan pernah ada.
Beberapa hari lalu, sebuah artikel di internet menyatakan bahwa lapisan ozon semakin hari semakin membaik. Benar saja, langit terlihat lebih jernih dan para bintang lebih sering terlihat belakangan ini. Batasan ini membuat alam memdapati dirinya sedang diperbaiki oleh keadaan. Jalanan yang biasanya padat oleh kendaraan dan polusi, kini berubah menjadi lebih lenggang dan polusi kalah saing.
Dari semua pemandangan baru yang kini menjadi sebuah kebiasaan itu, tercipta pertanyaan-pertanyaan baru pula. Apakah batasan ini tercipta untuk memperbaiki segala yang rusak oleh keterbatasan waktu? Selama ini kita hanya bisa mengutuk virus itu agar segera enyah dari permukaan bumi. Setelahnya, apakah pemandangan-pemandangan baru ini akan hilang? Aku bukannya senang akan keberadaan batasan ini, hanya saja berusaha mengamati lebih jauh lagi tentang semua dampak yang tercipta. Ternyata tidak semuanya buruk, tapi ada pula yang baik seperti lebih banyak waktu dengan keluarga, lebih banyak waktu mengeksplorasi diri, lebih terbiasa berhemat, lebih sedikit polusi, langit lebih jernih, bintang lebih sering terlihat, lebih sedikit kemacetan.
Walaupun ada banyak dampak baru yang terasa nyaman buatku, aku tetap tidak ingin virus itu berlama-lama ada di bumi. Tak tega melihat para tenaga medis dan pemerintah yang mati-matian mencegah penyebaran virus yang begitu pesat ini. Disamping itu, faktanya, manusia adalah makhluk yang dituntut untuk bisa beradaptasi dan itu bukan hal mudah dilakukan. Aku sangat merindukan suasana keramaian kelas dan kekonyolan yang dibuat penghuninya, rindu momen-momen dimana kita suka mengeluh terhadap banyaknya tugas, rindu suasana perpustakaan sekolah, rindu suasana jam kosong, suasana riuh di kantin. Rindu jalan menuju sekolah, rindu bagaimana keruwetan parkiran sekolah.
Bertahanlah. Batasan ini akan berakhir sesegera mungkin. Nikmati pemandangan yang ada hari ini sebanyak yang kau bisa. Karena belum tentu akan ada lagi di esok hari. Percayalah, tidak semuanya buruk. Aku pun tak bisa memungkiri, menelan bulat-bulat kekecewaan bukanlah perkara mudah. Melihat semua yang telah dirancang menjadi sia-sia butuh jiwa yang lapang, menerima bahwa perpisahan benar-benar tidak ada butuh hati yang kuat, semuanya benar-benar tidak mudah. Kesulitan ini bukan hanya milikmu, tapi milik kita bersama. Lakukan sesuatu yang membuatmu jauh dari kebosanan. Amati sekelilingmu, sadari apa yang berubah. Jika hanya rebahan pastinya kau tak akan melihat apa-apa dan akan terasa sangat lama untuk melihat pagi berganti menjadi malam. Jika hanya mengeluh, yang ada hanyalah kekosongan. Lakukan sesuatu yang membuatmu bisa mengenang hari ini dengan penuh bangga dan bisa kau ceritakan 10 atau 15 tahun lagi bahwa kau pernah melewati pandemi ini. Badai akan berakhir sebentar lagi. Semoga kita semua dalam keadaan sehat ya, salam dariku yang sedang dirumahaja.
Komentar
Posting Komentar