BELAJAR MOBIL
Sejak kecil saya paling suka bermain bom-bom car ketika pergi ke sebuah taman bermain. Rasanya keren aja bisa naik mobil dengan kecepatan tinggi. Dan rasa-rasanya saya menganggap bahwa kemampuan menyetir saya itu bagus banget. Terbukti dengan lincahnya saya maju dan mundur plus menghajar mobil di sekitar saya. Hahahahaha.
Beranjak dewasa, ketika SMA mama saya menyuruh untuk belajar mengendarai mobil. Alasannya biar mama gak capek bolak balik anter jemput anak-anaknya. Karena masih belum mau pergi ke sekolah mengemudi, akhirnya saya minta diajari mama.
Belajarnya hanya di komplek rumah. Namun dalam sekali belajar, mama menyuruh saya untuk belajar di sekolah mengemudi saja. Tau gak alasannya apa? Katanya saya itu paling males ngerem. Ada polisi tidur dihajar terus. Bisa-bisa ibu hamil yang ikut mobilku jadi buru-buru brojol karena caraku mengemudi. Hihihihi.
Akhirnya saya baru mulai belajar mengemudi saat kuliah. Alasan mama juga karena saya sering kuliah pulang malam, jadi lebih baik bawa mobil daripada naik angkot. Waktu itu saya ambil kelas yang mobil manual. Beberapa kali mencoba berbagai macam mobil untuk melancarkan.
Hal yang paling gak saya suka dari mobil manual adalah sering mati mesin. Alasannya sih sederhana, saya gak mahir mengatur kaki antara kopling dan gas. Dan jadilah sering panik kalau di lampu merah.
Oh iya, ada cerita lucu ketika belajar menanjak. Jadi di hari terakhir kelas saya harus belajar parkir dan menanjak. Saat menanjak, saya menggunakan mobil lain, kalau gak salah sih mobil Katana ya yang kayak mobil boks itu.
Nah namanya belajar nanjak itu susah, jadilah beberapa kali mesin mati karena telat injek gas. Dan setiap kali mati, sang instruktur keluar dari mobil dan datang ke sisi kanan saya. Tau gak ngapain? Dia starter mobil tapi bukan pake kunci, tapi menyambungkan dua kabel sampai mobil nyala!
Komentar
Posting Komentar